Sejarah Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia tidak dapat dilepaskan dari semangat kolektif para pelaku usaha dalam membangun fondasi perdagangan internasional Indonesia sejak masa awal kemerdekaan. Organisasi ini secara resmi berdiri pada 21 Mei 1969, sebagai transformasi dari Organisasi Pedagang Besar yang lebih dahulu lahir pada 23 Maret 1956 di Surabaya.
Kelahiran OPS sendiri merupakan buah dari perjuangan Kongres Importir Nasional Seluruh Indonesia, yang digagas oleh para saudagar dan pelaku usaha dengan visi besar: menghadirkan wadah yang mampu melindungi kepentingan pelaku perdagangan, sekaligus menjadi mitra strategis pemerintah dalam merumuskan kebijakan terkait aktivitas perdagangan internasional. Dalam perjalanannya, OPS tidak hanya berfungsi sebagai organisasi profesi, tetapi juga sebagai ruang pembinaan, advokasi, dan penguatan kapasitas anggotanya.
Seiring berkembangnya dinamika perdagangan global dan kebutuhan akan representasi yang lebih luas, OPS kemudian bertransformasi menjadi GINSI pada tahun 1969. Perubahan nama ini menandai perluasan peran organisasi, dari sekadar perkumpulan pedagang besar menjadi representasi nasional para importir di seluruh Indonesia.
Sejak saat itu, GINSI memegang peran penting sebagai jembatan antara kepentingan dunia usaha dengan pemerintah, menghubungkan aspirasi pelaku usaha dengan kebijakan negara, sekaligus menjaga iklim perdagangan yang sehat dan berkelanjutan.
Dalam catatan sejarah, sosok awal Ketua Umum GINSI tidak terdokumentasi secara lengkap. Namun, nama Amiruddin Saud tercatat sebagai figur sentral yang memimpin organisasi ini dalam waktu yang cukup panjang, sekaligus berkontribusi besar dalam menguatkan eksistensi GINSI di tingkat nasional.
Menariknya, jejak historis GINSI memiliki keterkaitan erat dengan Surabaya. Kota ini bukan hanya menjadi tempat lahirnya OPS, tetapi juga menjadi pusat aktivitas perdagangan internasional pada masa awal. Surabaya kala itu menjadi simpul penting pergerakan para saudagar, khususnya dari Sulawesi, terutama Makassar, yang telah lebih dahulu menjalin jaringan perdagangan lintas negara. Tidak mengherankan jika pada masa awal, banyak pengurus GINSI berasal dari kawasan tersebut, termasuk Amiruddin Saud.
Seiring dengan perubahan status menjadi organisasi nasional, pusat aktivitas GINSI kemudian berpindah ke Jakarta. Namun, peran strategis Surabaya tetap tidak tergantikan dalam sejarah organisasi ini. Bahkan, GINSI BPD Jawa Timur memiliki akar yang kuat sejak masa OPS, mengingat embrio organisasi ini memang tumbuh dari dinamika perdagangan di kota pelabuhan tersebut. Secara formal, struktur BPD GINSI Jawa Timur mulai terbentuk bersamaan dengan perubahan OPS menjadi GINSI pada tahun 1969.
Hingga saat ini, GINSI terus berkembang dengan memiliki 11 Badan Pengurus Daerah (BPD) yang tersebar di berbagai wilayah strategis Indonesia. Keberadaan BPD ini umumnya berada di kota-kota pelabuhan utama yang menjadi pusat kegiatan ekspor-impor, seperti Medan, Jakarta, Surabaya, Semarang, Makassar, hingga Pontianak dan Sumatera Barat. Hal ini mencerminkan karakter GINSI sebagai organisasi yang tumbuh dan berkembang seiring denyut nadi perdagangan internasional Indonesia.
Lebih dari sekadar organisasi, GINSI adalah simbol kolaborasi antara pelaku usaha dan pemerintah, sebuah jembatan yang menghubungkan kepentingan ekonomi nasional dengan dinamika global. Dari Surabaya sebagai titik awal, hingga menjangkau berbagai pelabuhan di Nusantara, perjalanan GINSI adalah kisah tentang ketangguhan, adaptasi, dan komitmen dalam membangun ekosistem perdagangan yang kuat bagi Indonesia.