SURABAYA – Berdasarkan Berita Resmi Statistik (BRS) No. 08/02/35/Th. XXIV yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur, potret perdagangan internasional Jawa Timur sepanjang Januari hingga Desember 2025 menunjukkan performa yang dinamis. Meskipun nilai impor secara total mengalami kontraksi tipis, sektor nonmigas tetap menunjukkan geliat pertumbuhan yang positif.
Ringkasan Kumulatif Impor Tahun 2025
Secara kumulatif, nilai impor Jawa Timur selama periode Januari–Desember 2025 tercatat sebesar US$29,59 miliar. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 2,75 persen dibandingkan dengan capaian pada periode yang sama tahun 2024 yang mencapai US$30,43 miliar.

Khusus untuk bulan Desember 2025, nilai impor tercatat sebesar US$2,91 miliar, mengalami kenaikan sebesar 3,91 persen jika dibandingkan dengan bulan Desember 2024.
Performa Impor Sektor Migas dan Nonmigas
Perbedaan kontras terlihat jelas antara kinerja impor migas dan nonmigas sepanjang tahun 2025.
Sektor Migas mengalami penurunan tajam sebesar 29,54 persen, dari US$6,85 miliar pada tahun 2024 menjadi US$4,83 miliar di tahun 2025. Penurunan ini didorong oleh merosotnya impor minyak mentah sebesar 41,34 persen dan hasil minyak sebesar 33,44 persen.
Sektor Nonmigas berhasil mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 5,05 persen, meningkat dari US$23,57 miliar menjadi US$24,76 miliar pada akhir tahun 2025.

Analisis Komoditas Utama Nonmigas
Beberapa golongan barang (HS 2 Digit) menjadi penggerak utama impor nonmigas Jawa Timur. Golongan barang dengan peningkatan nilai impor tertinggi adalah sebagai berikut.
Perhiasan/Permata (HS 71) melonjak drastis sebesar 94,38 persen atau naik US$944,76 juta. Negara asal utama komoditas ini adalah Hong Kong dengan nilai US$1,02 miliar dan Uni Emirat Arab sebesar US$396,42 juta.
Mesin dan Perlengkapan Listrik (HS 85) naik signifikan sebesar 34,00 persen menjadi US$1,10 miliar. Tiongkok masih menjadi pemasok dominan untuk kategori ini dengan nilai US$793,97 juta.

Pupuk (HS 31) tumbuh sebesar 28,49 persen.
Buah-buahan (HS 08) mengalami peningkatan sebesar 22,89 persen.
Sebaliknya, penurunan terdalam dialami oleh komoditas Serealia (HS 10) yang anjlok sebesar 41,12 persen atau setara dengan penurunan nilai US$818,30 juta dibandingkan tahun 2024.

Struktur Impor Menurut Penggunaan Barang
Struktur ekonomi Jawa Timur yang berbasis industri pengolahan tercermin dari komposisi penggunaan barang impor.
Bahan Baku/Penolong memiliki pangsa terbesar yaitu 79,45 persen dengan nilai US$23,51 miliar. Meskipun turun 4,22 persen secara tahunan, kelompok ini tetap menjadi kebutuhan utama pabrik-pabrik lokal.
Barang Modal mencatatkan pertumbuhan impresif sebesar 14,76 persen dengan nilai US$2,53 miliar. Kenaikan ini mengindikasikan adanya ekspansi kapasitas produksi dan investasi mesin di Jawa Timur.

Barang Konsumsi mengalami penurunan sebesar 3,40 persen dengan nilai akhir US$3,56 miliar.
Neraca Perdagangan Tetap Surplus US$808,25 Juta
Meskipun impor sektor nonmigas mengalami kenaikan, Jawa Timur secara keseluruhan tetap mencatatkan surplus neraca perdagangan sepanjang Januari–Desember 2025. Total surplus mencapai US$808,25 juta.
Kondisi surplus ini dimungkinkan karena nilai ekspor total Jawa Timur sebesar US$30,40 miliar masih lebih tinggi dibandingkan nilai impor totalnya. Namun, perlu dicatat bahwa surplus ini sepenuhnya disokong oleh kinerja sektor nonmigas yang surplus sebesar US$5,00 miliar. Sementara itu, sektor migas masih mengalami defisit sebesar US$4,20 miliar, yang disebabkan oleh tingginya impor migas sebesar US$4,83 miliar yang tidak sebanding dengan ekspornya sebesar US$0,63 miliar.